Senin, 13 Juli 2015

Katamu dan Nasyid Yang Ku Dengar



“Kata-kata cinta terucap indah mengalir berdzikir di kidung do’aku . . . Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku”

Edcoustic - Muhasabah Cinta


Sepenggal lirik nasyid yang sering kudengarkan, pengingat rasa syukur yang merdu. Selalu, ada rasa lain yang mengiringi untaian nadanya. Bagiku, membuka sebuah ingatan akan perkataan manis saat pelik melanda kami.

“Mamah”, begitu panggilku padamu ibu. Dengan panggilan itu, mungkin tak ada yang membayangkan betapa manjanya diriku dihadapanmu. Hingga aku selalu malu untuk bercerita sendiri kepada kawanku tentang bagaimana caraku memanggilmu. Huft . . . Selalu tersisip senyuman kecil saat aku mengingatnya, tapi kini sudah berarti lain.

Empat tahun sudah berlalu sejak awal catatan panjang rasa sakit yang engkau terima. Dibalik setiap catatan medis yang cukup menakutkan bagiku, tak banyak terlihat kelemahanmu, tak juga terdengar nafas keputusasaan. Hanya alam bawah sadar yang sering memaksamu menampakkannya. 

Masih terkenang olehku beberapa minggu lalu, di tengah perjalanan yang terasa sangat getir, terucap sebuah pertanyaan yang kami lontarkan padamu. “Mah . . . Kenapa sih sakitnya jadi begini?”, sebuah kalimat yang mempertanyakan keputusan Sang Pencipta. 

Tapi, sungguh tiada dari kami menduga, engkau menjawabnya dengan kalimat yang begitu manis. “Mungkin ini ujiannya mamah, buat hapus dosa mamah”, tentunya dalam Bahasa Sunda yang khas dari bibirmu.

Sepenggal kalimat yang membuat kami berpikir untuk tak lagi meneruskan pertanyaan kami. Kalimat yang sepintas terdengar persis dengan potongan lirik nasyid yang ku kutip diatas.

Hingga akhirnya kemarin, Minggu, 12 Juli 2015 tepat 06:50 WIB sebelum adzan isya berkumandang di kampung halamanmu, Allah telah menentukan jalan yang berbeda dengan keinginanku, tentang bagaimana menghilangkan rasa sakitmu. 

Terima kasih atas segalanya. Terima kasih atas apa yang kau ajarkan. Aku bangga, mah!