“Kata-kata cinta terucap indah mengalir berdzikir di kidung do’aku . . . Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku”
Edcoustic - Muhasabah Cinta
Sepenggal lirik nasyid yang sering kudengarkan, pengingat rasa syukur yang merdu. Selalu, ada rasa lain yang mengiringi untaian nadanya. Bagiku, membuka sebuah ingatan akan perkataan manis saat pelik melanda kami.
“Mamah”, begitu panggilku padamu ibu. Dengan panggilan itu, mungkin
tak ada yang membayangkan betapa manjanya diriku dihadapanmu. Hingga aku selalu
malu untuk bercerita sendiri kepada kawanku tentang bagaimana caraku
memanggilmu. Huft . . . Selalu tersisip senyuman kecil saat aku mengingatnya,
tapi kini sudah berarti lain.
Empat tahun sudah berlalu sejak awal catatan panjang rasa
sakit yang engkau terima. Dibalik setiap catatan medis yang cukup menakutkan
bagiku, tak banyak terlihat kelemahanmu, tak juga terdengar nafas keputusasaan.
Hanya alam bawah sadar yang sering memaksamu menampakkannya.
Masih terkenang olehku beberapa minggu lalu, di tengah
perjalanan yang terasa sangat getir, terucap sebuah pertanyaan yang kami
lontarkan padamu. “Mah . . . Kenapa sih sakitnya jadi begini?”, sebuah kalimat yang
mempertanyakan keputusan Sang Pencipta.
Tapi, sungguh tiada dari kami menduga, engkau menjawabnya dengan
kalimat yang begitu manis. “Mungkin ini ujiannya mamah, buat hapus dosa mamah”,
tentunya dalam Bahasa Sunda yang khas dari bibirmu.
Sepenggal kalimat yang membuat kami berpikir untuk tak lagi meneruskan
pertanyaan kami. Kalimat yang sepintas terdengar persis dengan potongan lirik
nasyid yang ku kutip diatas.
Hingga akhirnya kemarin, Minggu, 12 Juli 2015 tepat 06:50
WIB sebelum adzan isya berkumandang di kampung halamanmu, Allah telah
menentukan jalan yang berbeda dengan keinginanku, tentang bagaimana
menghilangkan rasa sakitmu.
Terima kasih atas segalanya. Terima kasih atas apa
yang kau ajarkan. Aku bangga, mah!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar